Ketika dunia berdebat tentang dominasi Artificial Intelligence (AI), Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) justru menyoroti titik temu krusial antara teknologi dan humanisme. Dalam gelaran prestisius “The 3rd UMCINMATIC 2025” pada Jumat (24.10.2025), UMG membuktikan bahwa riset akademisnya tidak hanya relevan, tetapi juga siap menjawab tantangan global.

Konferensi internasional bertema “Artificial Intelligence and the transformation of business management Practices” ini dibuka secara resmi oleh Rektor UMG, Prof. Khoirul Anwar, M.Pd. Forum ini menjadi ajang kolaborasi intelektual tingkat tinggi, menghadirkan delegasi pakar dari Thailand—Dr. Wanida Simpol, Mr. Somkid Kesda, dan Dr. Mongkhon Snnuan—serta didampingi oleh tuan rumah, Kepala Program Magister Manajemen UMG, Dr. Eva Desemberianita, Dra., MM.

Namun, di antara paparan para pakar, dua bintang bersinar terang dari program Magister Manajemen (MM) UMG. Mereka bukan sekadar peserta, melainkan pemakalah yang membawa temuan tesis orisinal dan solutif.

Menjembatani Logika Digital dengan Sentuhan Emosional

Adalah Fatima Thus Zahrah yang menjadi pemakalah pada kegiatan. Menurutnya di tengah gempuran otomatisasi dalam rantai pasok, Fatima menawarkan perspektif yang lebih manusiawi melalui risetnya, “CLICK, CONNECT, CONTRACT: A STRATEGIC ALIGNMENT APPROACH IN SUPPLIER SELECTION ACROSS ASIA”.

Ia memperkenalkan kerangka kerja inovatif yang disebut DESA (Digital–Emotional Strategic Alignment). Temuannya menantang asumsi bahwa pemilihan pemasok (supplier) di Asia cukup bermodal reputasi digital.

“Teknologi dan media sosial adalah pintu gerbang efisiensi,” papar Fatima dalam presentasinya. “Namun, yang mengunci kemitraan jangka panjang adalah kecerdasan emosional. Kemampuan berempati dan beradaptasi adalah ‘kontrak’ kolaboratif yang sesungguhnya.” Riset ini memberikan pandangan baru bahwa di era AI, sentuhan manusia (human touch) justru menjadi aset strategis termahal.

Membongkar Mitos Loyalitas di Pasar Agresif

Sementara itu, W. Iwan Setiawan Eko Putro menyajikan studi kasus tajam dari industri agribisnis yang sarat kompetisi. Melalui risetnya mengenai pestisida Kanon 400 EC, Iwan menggebrak dengan temuan lapangan yang fundamental.

“Kami menemukan fakta di lapangan: konsumen yang puas ternyata sulit untuk menjadi loyal,” tegas Iwan.

Dalam paparan berjudul “PENGARUH SERVICE QUALITY, SWITCHING BARRIERS, BRAND ATTITUDE TERHADAP CUSTOMER LOYALTY DENGAN MEDIATOR BRAND EQUITY”, Iwan membuktikan bahwa kepuasan pelanggan bukanlah jaminan di tengah persaingan ketat. Loyalitas, menurutnya, adalah benteng yang harus dibangun secara sistematis melalui Brand Equity (Ekuitas Merek) yang kokoh dan Switching Barriers (Hambatan Beralih) yang efektif.

Dari Tesis Menuju Jurnal Global

Direktur Penelitian dan Pengabdian Masyarakat UMG, Prof. dr. Yudhi Arifani, M.Pd, mengapresiasi kedua mahasiswa tersebut. Beliau menegaskan bahwa UMCINMATIC 2025 dirancang sebagai akselerator untuk hilirisasi gagasan.

“Forum ini adalah validasi. Kita melihat bagaimana tesis mahasiswa MM UMG tidak berhenti di ruang ujian, tetapi memiliki keberanian untuk diuji di panggung global dan menjawab isu industri secara real-time,” ujar Prof. Yudhi.

Konferensi ini ditutup bukan sekadar dengan seremoni, melainkan dengan komitmen nyata. Seluruh temuan terbaik dalam UMCINMATIC 2025, khususnya karya-karya inovatif seperti milik Fatima dan Iwan, didorong penuh untuk menembus publikasi jurnal internasional bereputasi. Ini adalah langkah UMG dalam menyumbangkan gagasan orisinal pada khazanah ilmu manajemen global, membuktikan bahwa masa depan bisnis terletak pada keseimbangan antara kecerdasan buatan dan kearifan manusia.

Leave a Reply