Pasca.UMG-Gresik kini berada di persimpangan jalan dalam pengembangan ekonomi kerakyatannya. Dengan kontribusi sektor Industri Kecil Menengah (IKM) yang menyumbang hampir separuh dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) daerah, tantangan besar kini beralih pada bagaimana membawa para pelaku usaha ini “naik kelas”—dari pasar lokal yang terbatas menuju kancah ekspor global yang kompetitif.

Dalam diskusi bertajuk SAPA UMKM yang diselenggarakan Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) baru-baru ini, terungkap bahwa Gresik memiliki modal geografis dan ekonomi yang langka. Namun, lompatan menuju pasar internasional masih terganjal oleh masalah klasik: mentalitas, standarisasi, dan rendahnya adopsi teknologi digital.

Modal Strategis yang Belum Optimal
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan tren positif IKM di Gresik selama lima tahun terakhir. Pada tahun 2023, sektor pengolahan dan perdagangan di wilayah ini didominasi oleh IKM (98 persen) dan berhasil menyerap sekitar 109.000 tenaga kerja.

Dr. Ir. Kuncoro Catur Nugroho, M.M., Ketua Asosiasi Pengelolaan Rajungan Indonesia (APRI), menyebut Gresik sebagai “kombinasi langka” antara kawasan industri berat, basis perikanan yang kuat, dan hub logistik strategis. “Lokasi konektivitas di Gresik sangat memungkinkan untuk berkembang dibandingkan daerah lain di Indonesia Timur. Gresik adalah hub distribusi ekspor yang potensial,” ujarnya.

Meski demikian, Kuncoro menyoroti adanya bottleneck atau hambatan utama. UMKM di Gresik dinilai belum sepenuhnya siap ekspor. Kualitas produk masih belum standar, kemasan yang lemah, serta minimnya sertifikasi menjadi penghalang utama. “Budaya ‘begini saja sudah cukup’ harus diubah menjadi semangat bahwa hari ini harus lebih baik dari kemarin,” tegasnya.

Mengatasi Kendala Ekspor
Pemerintah sebenarnya telah menyediakan karpet merah bagi pelaku usaha yang ingin merambah pasar luar negeri. Ari Indarwanto, S.E., M.M., pengelola Export Center Surabaya dari Kementerian Perdagangan, menjelaskan bahwa fasilitas pendampingan tersedia secara gratis bagi UMKM.

“Kami memiliki perwakilan dagang di luar negeri, seperti Atase Perdagangan dan ITPC (Indonesia Trade Promotion Center), yang tugasnya mencari pembeli (buyer) dan memberikan intelijen pasar,” kata Ari.

Namun, ia menekankan bahwa ekspor bukan sekadar soal kuantitas, melainkan konsistensi dan legalitas. Proses kurasi menjadi sangat ketat karena menyangkut reputasi bangsa. “Jangan sampai saat sudah ada kesepakatan 1.000 karton per minggu, pelaku usaha mundur karena kendala tenaga kerja atau bahan baku. Mentalitas dan konsistensi ini yang harus dipupuk,” tambahnya.

Revitalisasi Produk Lokal
Salah satu poin menarik dalam diskusi tersebut adalah potensi produk khas seperti Jubung, Songkok, hingga minuman Legen. Kuncoro menyayangkan produk dengan rasa unik seperti Jubung sering kali kalah bersaing hanya karena kemasan yang dianggap kurang modern atau “tradisional”.

Hal senada diungkapkan oleh para pakar bahwa produk luar negeri seperti dari Jepang atau Korea seringkali memiliki kualitas rasa yang sederhana, namun dikemas dengan sangat apik sehingga memiliki nilai jual tinggi. Di sisi lain, Songkok Gresik sebenarnya memiliki kualitas internasional yang sangat diminati di pasar Timur Tengah hingga Turki, namun distribusinya masih perlu diperluas.

Digitalisasi sebagai Kunci
Menghadapi era disrupsi, digitalisasi bukan lagi pilihan melainkan keharusan. Kuncoro menekankan peran generasi muda dan alumni perguruan tinggi untuk menjadi “dirigen” bagi para pelaku UMKM. Kemampuan digital (digital capability) diperlukan untuk membangun marketplace lokal dan menembus jaringan perdagangan global.

“Kita butuh motor penggerak transformasi dari usaha tradisional menjadi bisnis modern melalui penggunaan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI),” pungkas Dr. Eva Desembri Anita, selaku pemandu diskusi.

Ke depan, tantangan UMKM Gresik bukan lagi soal bertahan di tengah pandemi, melainkan bagaimana memastikan pertumbuhan ekonomi yang inklusif, merata, dan berkelanjutan melalui integrasi pasar yang lebih luas. Tanpa standarisasi dan keberanian untuk berubah, potensi besar “Kota Pudak” ini dikhawatirkan hanya akan menjadi penonton di tengah derasnya arus perdagangan global

Leave a Reply